Sebagian orang tua seringkali merasa takut tumbuh kembang anak akan terganggu apabila ibu bekerja di luar rumah.
Padahal, dengan strategi dan pola asuh yang tepat, seorang ibu bekerja dapat mengasuh anak dengan baik pula.
"Ibu rumah tangga dan ibu bekerja pola asuhnya tergantung dengan panggilan mereka sebagai seorang ibu," ujar Psikolog anak Ratih Andjayani Ibrahim pada sebuah acara peluncuran program pendidikan dan kesehatan di Jakarta, Selasa.
Bagaimana ibu dengan sungguh-sungguh menyiasati dan memantau perkembangan anak, menurut Ratih, tergantung pada kualitas waktu yang dimilikinya bersama keluarga.
"Kuantitas waktu mungkin tidak banyak, namun bagaimana waktu yang sedikit itu berarti dan berkualitas, justru membuat tumbuh kembang anak menjadi lebih baik," ujar Ratih.
Ratih mengatakan hal sepele seperti menyiapkan sarapan, mengantar anak sekolah, mengantar anak tidur, atau pun mengobrol dan bermain bersama anak di waktu libur, dapat menjadi sangat berkualitas meskipun kuantitas waktu sangatlah sedikit.
"Syarat utama untuk memiliki kualitas waktu yang baik bagi orang tua bekerja adalah, jauhkanlah diri anda dari peralatan elektronik seperti telepon genggam, smart phone, lap top, tablet dan lain sebagainya, fokuslah pada keluarga di waktu itu," ujar Ratih.
Ratih juga menambahkan bahwa dengan memasukkan anak ke pendidikan usia dini, dapat menjadi cara mudah untuk memantau perkembangan anak dengan aman, karena di situ anak dapat bermain serta belajar.
"Dan jangan lupa, pengasuh atau pembantu di rumah yang merupakan perpanjangan tangan kita harus bisa diandalkan dan dipercaya, mulai dari perawatan anak hingga menu yang diberikan," kata Ratih.
Padahal, dengan strategi dan pola asuh yang tepat, seorang ibu bekerja dapat mengasuh anak dengan baik pula.
"Ibu rumah tangga dan ibu bekerja pola asuhnya tergantung dengan panggilan mereka sebagai seorang ibu," ujar Psikolog anak Ratih Andjayani Ibrahim pada sebuah acara peluncuran program pendidikan dan kesehatan di Jakarta, Selasa.
Bagaimana ibu dengan sungguh-sungguh menyiasati dan memantau perkembangan anak, menurut Ratih, tergantung pada kualitas waktu yang dimilikinya bersama keluarga.
"Kuantitas waktu mungkin tidak banyak, namun bagaimana waktu yang sedikit itu berarti dan berkualitas, justru membuat tumbuh kembang anak menjadi lebih baik," ujar Ratih.
Ratih mengatakan hal sepele seperti menyiapkan sarapan, mengantar anak sekolah, mengantar anak tidur, atau pun mengobrol dan bermain bersama anak di waktu libur, dapat menjadi sangat berkualitas meskipun kuantitas waktu sangatlah sedikit.
"Syarat utama untuk memiliki kualitas waktu yang baik bagi orang tua bekerja adalah, jauhkanlah diri anda dari peralatan elektronik seperti telepon genggam, smart phone, lap top, tablet dan lain sebagainya, fokuslah pada keluarga di waktu itu," ujar Ratih.
Ratih juga menambahkan bahwa dengan memasukkan anak ke pendidikan usia dini, dapat menjadi cara mudah untuk memantau perkembangan anak dengan aman, karena di situ anak dapat bermain serta belajar.
"Dan jangan lupa, pengasuh atau pembantu di rumah yang merupakan perpanjangan tangan kita harus bisa diandalkan dan dipercaya, mulai dari perawatan anak hingga menu yang diberikan," kata Ratih.
****
Bagi bayi dan balita, tidur bukanlah sekedar cara untuk memulihkan tenaga, namun juga sangat penting untuk tumbuh kembang bayi dan balita secara optimal.
Hal ini disampaikan oleh dokter spesialis anak dari Divisi Perinatologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Rosalina Dewi Roeslani Sp.A(K), pada sebuah Jumpa Pers yang diadakan oleh Unicharm di Jakarta, Selasa.
"Pada saat tidur, hormon pertumbuhan terangsang untuk bekerja dan sangat berguna untuk regenerasi sel-sel tubuh dan perkembangan otak," ujar Rosalina.
Semakin tinggi kadar hormon pertumbuhan, maka semakin tinggi pula stimulus pertumbuhan otak dan jaringan, katanya.
"Metabolisme dalam tubuh juga menjadi baik saat bayi berhasil mendapatkan kualitas tidur yang baik," kata Rosalina.
Rosalina menambahkan, bahwa tidur yang baik juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga bayi tidak cepat terserang penyakit.
Hal ini disampaikan oleh dokter spesialis anak dari Divisi Perinatologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Rosalina Dewi Roeslani Sp.A(K), pada sebuah Jumpa Pers yang diadakan oleh Unicharm di Jakarta, Selasa.
"Pada saat tidur, hormon pertumbuhan terangsang untuk bekerja dan sangat berguna untuk regenerasi sel-sel tubuh dan perkembangan otak," ujar Rosalina.
Semakin tinggi kadar hormon pertumbuhan, maka semakin tinggi pula stimulus pertumbuhan otak dan jaringan, katanya.
"Metabolisme dalam tubuh juga menjadi baik saat bayi berhasil mendapatkan kualitas tidur yang baik," kata Rosalina.
Rosalina menambahkan, bahwa tidur yang baik juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga bayi tidak cepat terserang penyakit.
****
Banyak Uang Bukan Berarti Lebih Bahagia
Salah satu ambisi manusia adalah menjadi kaya dan memiliki banyak uang. Manusia pun rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan alat tukar utama itu. Namun sebuah penelitian baru di Inggris menunjukkan bahwa memiliki lebih banyak uang mungkin tidak selalu membuat Anda bahagia, terutama jika Anda neurotik atau mengidap gangguan saraf.
Dalam penelitiannya, ekonom Dr. Eugenio Proto dari University of Warwick melihat bagaimana ciri-ciri kepribadian dapat mempengaruhi perasaan Anda tentang pendapatan dalam hal tingkat kepuasan hidup.
Proto pun menemukan bahwa pengidap neurotik bisa melihat kenaikan gaji sebagai kegagalan jika jumlahnya tidak sebanyak yang diharapkan.
Neurosis atau gangguan saraf sendiri ditandai dengan kecemasan yang berlebihan dan gangguan emosional, sedangkan neurotisisme adalah kecenderungan untuk mengalami emosi negatif seperti kecemasan, rasa bersalah, kemarahan dan depresi.
Proto, yang melakukan penelitian bersama Aldo Rustichini, Ph.D. dari University of Minnesota mengatakan bahwa orang-orang yang gajinya tinggi namun memiliki tingkat neurotisisme yang juga tinggi lebih cenderung melihat kenaikan gaji sebagai kegagalan.
"Seseorang yang memiliki tingkat neurotisisme tinggi akan melihat peningkatan pendapatan sebagai ukuran keberhasilan. Saat berpenghasilan rendah, kenaikan gaji tidak terasa begitu memuaskan bagi mereka karena mereka melihat hal itu sebagai prestasi.
"Namun jika penghasilannya sudah lebih tinggi, mereka mungkin tidak berpikir kenaikan gaji sebanyak yang mereka harapkan. Jadi mereka melihat hal ini sebagai kegagalan parsial dan menurunkan kepuasan hidup mereka," terang Dr. Proto seperti dilansir dari psychcentral, Rabu (13/6/2012).
Dalam studi ini, Dr. Proto menggunakan data dari British Household Panel Survey dan German Socioeconomic Panel.
"Hasil ini menunjukkan bahwa kita melihat uang hanya sebagai alat untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan, bukan sebagai sarana untuk mencapai kondisi yang lebih nyaman," ujar Dr Proto.
Dalam penelitiannya, ekonom Dr. Eugenio Proto dari University of Warwick melihat bagaimana ciri-ciri kepribadian dapat mempengaruhi perasaan Anda tentang pendapatan dalam hal tingkat kepuasan hidup.
Proto pun menemukan bahwa pengidap neurotik bisa melihat kenaikan gaji sebagai kegagalan jika jumlahnya tidak sebanyak yang diharapkan.
Neurosis atau gangguan saraf sendiri ditandai dengan kecemasan yang berlebihan dan gangguan emosional, sedangkan neurotisisme adalah kecenderungan untuk mengalami emosi negatif seperti kecemasan, rasa bersalah, kemarahan dan depresi.
Proto, yang melakukan penelitian bersama Aldo Rustichini, Ph.D. dari University of Minnesota mengatakan bahwa orang-orang yang gajinya tinggi namun memiliki tingkat neurotisisme yang juga tinggi lebih cenderung melihat kenaikan gaji sebagai kegagalan.
"Seseorang yang memiliki tingkat neurotisisme tinggi akan melihat peningkatan pendapatan sebagai ukuran keberhasilan. Saat berpenghasilan rendah, kenaikan gaji tidak terasa begitu memuaskan bagi mereka karena mereka melihat hal itu sebagai prestasi.
"Namun jika penghasilannya sudah lebih tinggi, mereka mungkin tidak berpikir kenaikan gaji sebanyak yang mereka harapkan. Jadi mereka melihat hal ini sebagai kegagalan parsial dan menurunkan kepuasan hidup mereka," terang Dr. Proto seperti dilansir dari psychcentral, Rabu (13/6/2012).
Dalam studi ini, Dr. Proto menggunakan data dari British Household Panel Survey dan German Socioeconomic Panel.
"Hasil ini menunjukkan bahwa kita melihat uang hanya sebagai alat untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan, bukan sebagai sarana untuk mencapai kondisi yang lebih nyaman," ujar Dr Proto.
Antara dan detik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar